image image image
  • Materi Hizbul Wathan
    Materi Materi Hizbul Wathan, Tehnik Ketrampilan Kepanduan.
  • Buku Buku Hizbul Wathan
    Buku Buku Hizbul Wathan - Outbound.
  • Lagu Lagu Hizbul Wathan
    Lagu - Lagu Hizbul Wathan - Muhammadiyah & Ortom.

Kedai Hizbul Wathan

Feature Demo Image

Kedai Hizbul Wathan

Dalam rangka memenuhi kebutuhan perlengkapan Hizbul Wathan dan Muhammadiyah, maka kami onlinekan barang - barang di Kedai.

Read More

Feature Demo Image

Sejarah Hizbul Wathan

Pada suatu hari dipanggilnya oleh K.H.Ahmad Dahlan beberapa guru Muhammadiyah : Bapak Somodirjo (mantri guru Standard School Suronatan, sekarang menjadi SD

Feature Demo Image

Materi Hizbul Wathan

Materi Hizbul Wathan terdiri dari Materi Utama dan Materi Pendukung. Materi utama terdiri dari 8 Pokok Materi Kepanduan seperti yang di ajarkan oleh Lord Boden Powell serta

Feature Demo Image

Buku - Buku HW

Kegiatan hizbul wathan di seluruh tanah air dapat di kembangkan dengan memanfaatkan buku - buku panduan yang menunjang, kita juga dapat share materi di situs ini.


update ..

update ...

Sejarah Hizbul Wathan

demo image

Detik - Detik Lahirnya Hizbul Wathan.

Memorial of Hizbul Wathan.

Pada suatu hari dipanggilnya oleh K.H.Ahmad Dahlan beberapa guru Muhammadiyah : Bapak Somodirjo (mantri guru Standard School Suronatan, sekarang menjadi SD Suronatan), bersama seorang pembantunya : Bapak Syarbini dari sekolah Muhammadiyah Bausasran dan seorang lagi dari sekolah Muhammadiyah Kotagede. Hari tersebut bertepatan pada hari Ahad siang. Pertemuan diadakan bukannya merupakan suatu rapat yang akan memperbincangkan sesuatu masalah, melainkan merupakan suatu pertemuan anak dengan bapak atau antara murid dengan guru atau bagaikan antara Santri dengan Kyai. .

Dengan secara kekeluargaan K.H.Ahmad Dahlan sedikit mempersoalkan perjalanannya bertabligh ke Solo, ialah kedatanganya tiap hari Sabtu malam (malam minggu) di pengajian S.A.T.V (Sidik Amanat Tabligh Vatonah) di pendopo rumah Kyai Imam Muchtar Buchori di Kauman Solo. Selanjutnya Kyai berkata kepada para guru tersebut : "Saya tadi pagi di Solo pulang dari Tabligh, sampai di muka Pura Mangkunegaran di alun-alun, melihat anak banyak berbaris, setengahnya sedang bermain-main, semuanya berpakaian seragam. Baik sekali! Itu apa?".


Rupanya bapak mantri guru Somodirjo telah memahami apa yang dimaksud oleh Kyai. Diuraikannya, bahwa yang dilihat oleh Kyai itu ialah anak-anak Padvinder Mangkunegaran yang namanya J.P.O (Javaansche Padvinderij Organisatie). Diterangkan selanjutnya, bahwa Padvinderij itu suatu gerakan pendidikan anak-anak di luar sekolah dan di luar rumah. Mendengar keterangan tersebut Kyai menyambut : "Alangkah baiknya, kalau anak-anak keluarga Muhammadiyah juga dididik semacam itu untuk melayani (Jawa :  leladi) menghamba kepada Allah".


Selanjutnya kepada guru-guru tersebut diharapkan oleh Kiyai supaya dapat mencontoh gerakan pendidikan itu. Sejak setelah diadakan pertemuan itu, guru-guru Muhammadiyah dengan dipelopori terutama oleh Bp. Somodirjo, Bp. Syarbini mengadakan persiapan-persiapan akan mengadakan gerakan untuk anak-anak di luar sekolah dan rumah. Mula-mula yang akan digerakkan para guru sendiri terlebih dahulu.

Pendaftaran dimulai. Latihan diadakan tiap Ahad sore di halaman sekolah Muhammadiyah Suronatan. Terutama yang dilatih ialah berbaris dan olahraga. Kian hari kian bertambah yang mengikutinya. Tiada lagi terbatas pada para guru saja, juga banyak para pemuda dari Kauman yang ikut berlatih. Yang sangat menarik kepada masyarakat ialah adanya barisan yang dipimpin oleh Bapak Syarbini seorang pemuda yang telah cukup mendapat latihan-latihan kemiliteran (Militer Belanda), seorang pemuda bekas "onder officer". Tentu sajalah segala gerak dan sikapnya sangat menarik dalam lingkungan pemuda yang memang sama haus kepada pimpinan keprajuritan. Segala aba-aba dan cara-cara berbaris diberikan secara militer dan masih dengan bahasa Belanda.

Tiap Ahad sore sekitar Kauman menjadi ramai. Anak-anak kecil yang semula hanya melihat, kemudian menggabung, turut juga berbaris. Maka oleh karena itu lalu diadakan dua golongan, ialah golongan dewasa dan golongan anak-anak. Selain latihan berbaris dan olah raga diadakan latihan pertolongan pertama pada kecelakaan (P.P.P.K). Tiada ketinggalan pula latihan kerohanian. Bagi golongan yang dewasa diadakan pengajian tiap hari Selasa malam (malam Rabu). Kapan dan tanggal berapa gerakan tersebut dimulai? Hal itu perlu dapat kita ketahui berhubung akan mengetahui detik peristiwa lahirnya "HW". Akan tetapi sayang tiada seorang pun yang sekarang masih ada dan pernah mengalami peristiwa-peristiwa tersebut,yang ingat kapan saat-saat itu terjadi; maka untuk mengetahui saat-saat kapan, perlu dicari peristiwa-peristiwa yang dapat sebagai pegangan. Dalam hal ini kiranya peristiwa yang dialami oleh Bapak Syarbini sendiri, dapat kita gunakan sebagai titik pegangan.


Pada tahun 1915 pemuda Syarbini keluar dari dinas militer. Sebagai bekas militer merasa dirinya sebagai pemuda yang tak layak lagi kembali begitu saja di tengah masyarakat. Dalam telinga, kata "Bekas Sedadui" mendapat kesan yang tiada baik. Maka untuk seakan-akan menebus sejarah yang sudah, bertekadlah pemuda Syarbini akan "nyantri" di pondok Kyai Dahlan. Terus ia betempat tinggal di langgar, di muka rumah Kyai Dahlan. Tahun 1916 pemuda Syarbini diangkat menjadi guru Muhammadiyah di sekolah Muhammadiyah Bausasran. Hal ini terjadi karena ternyata, bahwa pemuda Syarbini sebelum masuk dinas militer telah lulus ujiannya masuk Kweekschool di Ungaran, jadi memang ada bakatnya menjadi pendidik. Lama kelamaan rupanya pemuda Syarbini menarik perhatian para pemimpin Muhammadiyah, terutama K.H. Fachruddin. Oleh beliau akan diusahakan supaya menjadi warga Kauman. Dalam hari-hari akan adanya peralatan itu dirundingkan, pemuda Syarbini ini tengah aktip-aktipnya dalam memimpin barisan-barisan sebagai perintis Hizbul Wathan.


Saat yang bersejarah bagi pemuda Syarbini telah sampai ialah pada tanggal 16 Januari 1919 atau bertepatan dengan 13 Rabi'ullawal 1337 H, pernikahannya telah dilangsungkan. Mengingat peristiwa tersebut nyatalah bahwa dalam tahun 1918-lah gerakan Hizbul Wathan melangkahkan langkah yang pertama, meskipun nama Hizbul Wathan baru kemudian diberikan kepada gerakan itu.


Gerakan berbaris semakin ramai. Oleh umum dinamakan "Padvinder Muhammadiyah". Nama Padvinder Muhammadiyah menjadi populer, juga dalam lingkungan Muhammadiyah. Oleh karena itu oleh hoofbestuur Muhammadiyah pengawasan terhadap Padvinderij itu diserahkan kepada Muhammadiyah bg. Sekolahan. Oleh Bg. Sekolahan dibentuklah pengurusnya :
Ketua        : H. Muchtar
Wakil Ketua    : H. Hadjid
Sekretaris        : Somodirdjo
Keuangan        : Abd. Hamid
Organisasi        : Siradj Dahlan
Komando        : Sjarbini, Damiri


Untuk memajukan gerakan Padvinderij itu direncanakan akan mengambil pelajaran dari Solo kepada J.P.O. Persiapan dikerjakan. Untuk meriahkan keberangkatan ke Solo, maka telah diputuskan oleh Bg. Sekolahan, akan memberikan uniform dengan diangsur pembayarannya. H. Nawawi diutus berbelanja ke Semarang. Dibelinya kain drill kuning, kain biru dan setangan leher. Untuk setangan leher karena yang mudah didapat ialah kacu merah berbintik-bintik hitam (kacu "kedele kecer"), maka kacu itulah yang dibelinya. Uniform disiapkan. Hari keberangkatan ke Solo, berjamu kepada J.P.O telah ditetapkan. Yang boleh ikut hanyalah mereka yang telah beruniform. Pada suatu sore uniform dibagikan. Paginya hari Ahad barisan "Padvinder Muhammadiyah" dengan uniformnya yang baru  itu pergi ke Solo, dengan diantarkan oleh Kiyai H.Hisjam sebagai ketua bg. Sekolahan. Sampai di stasiun Tugu diantar sendiri oleh KH.A.Dahlan.


Di Solo mendapat sambutan hangat dari J.P.O dijemput dengan barisan sehingga menggemparkan kota Solo. Di lapangan Mangkunegaran diadakan demonstrasi-demonstrasi dan macam-macam permainan sebagai perkenalan. "Padvinder Muhammadiyah" mendapat banyak pelajaran dan pengalaman. Pada hari itu juga sebagai tamu "Padvinder Muhammadiyah" dijamu pertunjukan-pertunjukan dalam pendopo Mangkunegaran. Pulang dari Solo terbukalah pikiran dari para pemimpin "Padvinder Muhammadiyah".  Beberapa hal menjadi persoalan. Di antaranya yang hangat nama. Dalam suatu sidang pengurus dibentangkan mengenai nama, di rumah Bp. H. Hilal Kauman. Oleh R.H. Hadjid diajukan nama yang sekiranya dapat sesuai dengan keadaan masa dan mengingat pula pergolakan-pergolakan di luar negeri sehabis perang dunia I, ialah nama Hizbul Wathan yang berarti "Golongan yang cinta tanah air". Dengan kata sepakat nama itulah yang dipakai untuk mengganti nama "Padvinder Muhammadiyah". Kejadian ini waktuya bertepatan dengan peristiwa akan turunnya dari tahta Paduka Sri Sultan VII di Jogjakarta. Untuk turut menghormat dan akan ikut mengiringkan pindahnya Sri Sultan VII dari Keraton ke Ambarukmo, diadakan persiapan-persiapan dan latihan-latihan. Pada tanggal 29 Jumadilawal 1851 bertepatan dengan 30 Januari 1921, barisan HW keluar turut mengiringkan Sri Sultan pindah dari keraton ke Ambarukmo ("Jengkar Dalem dateng Ambarukmo").


Keluarga HW mendapat penuh perhatian dari khalayak ramai. Dari saat itulah HW mulai terkenal pada umum. Hal ini ditambah lagi sesudah beberapa hari kemudian HW berbaris dalam perayaan penobatan Sri Sultan VIII. Perayaan diadakan di alun-alun Lor. HW  turut pula dengan mengadakan demonstrasi di muka panggung dimana Sri Sultan VIII dengan para tamu menyaksikan-nya. HW telah menjadi buah bibir masyarakat.  Demikianlah uniform HW mulai dikenal masyarakat. Maka tidak heranlah, kadang-kadang kalau ada anak Belanda atau Tionghoa berpakaian Padvinder (N.I.P.V) dikatakannya: "Lo, itu ada HW Landa atau ada HW Cina", yang sebetulnya yang dimaksud adalah Padvinder N.I.P.V. Pesatnya kemajuan HW rupanya mendapat perhatian dari pihak N.I.P.V ialah perkumpulan padvinderij Hindia Belanda sebagai cabang dari padvinderij di Negeri Belanda (N.P.V).

Pada waktu itu gerakan padvinderij yang dapat pengakuan dari Internasional hanyalah yang bergabung dalam N.I.P.V tersebut. M. Raneff seorang pemimpin dari N.I.P.V dan yang memegang perwakilan N.P.V telah datang di Jogja menemui HW, mengajak supaya HW masuk dalam organisasi N.I.P.V. Usaha-usaha Komisaris N.I.P.V (Raneff) tiada hentinya untuk menarik HW menjadi anggota N.I.P.V sehingga ketika Kongres Muhammadiyah tahun 1926 di Surabaya, ia mengambil inisiatip mengikuti HW dalam Kongres Muhammadiyah dari semula sampai akhirnya. Selanjutnya diadakan pertemuan lagi di Jogjakarta oleh Wakil N.I.P.V. mengajak HW masuk ke dalam organisasi N.I.P.V. Tetapi, HW tetap ingin mempertahankan kedaulatannya, tiada dapat menerima tawaran dari M. Raneff tersebut, karena HW adalah HW bukannya seperti biasanya disebut padvinder. HW mempunyai prinsip-prinsip yang sukar diterima oleh "padvinder". Karena akan menyalahi prinsip-prinsip sebagai padvinder. Adapun HW jika akan dikatakan "itu bukannya padvinder", bagi HW tiada akan keberatan suatu apa, bagi HW adalah Hizbul Wathan, mau dikatakan itu padvinder terserah yang mau mengatakannya.

Comments  

Posted On
Dec 30, 2009
Posted By
Another User
0 Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Donec sit amet nibh. Vivamus non arcu.

LEAVE A REPLY

Security code
Refresh

Bina Karya Mandiri

  1. Ring Stir Mobil
  2. T Be Stir Mobil
  3. Bemo Stir Mobil
  4. Angkirngan Jempol
  5. Mbok Idjah
  6. Banyu Opak
  7. Birama Production
  8. Firsty Laundry
  9. You you Comp
  10. Khasanah Muslim Annur
  11. RR Tour & Travel

Specialisasi Tim ITC

  • Bloging & Training
  • Jasa Pembuatan Website Sekolah
  • Jasa Pembuatan Website Universitas
  • Jasa Pembuatan Website Organisasi
  • Jasa Pembuatan Website Hotel dan Reservasi Online
  • Jasa Pembuatan Toko Online
  • Sistem Informasi Akademik

Berminat ?
Hub. 085725588696

Kontak Kami

Peta Indonesia
Website : www.hizbulwathan.com
Email     : admin@hizbulwathan.com
Phone    : 085725588696
Just Message